Postingan

Manifestasi Kesadaran Diri Perspektif Sri Aurobindo

  Penulis: Andronikus Bouk (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)             Manusia adalah makluk sosial. Manusia yang membangun relasi hidup sosialnya dengan menggunakan akal budi sebagai dasar mencari dan menemukan kebenaran dalam hakekat yang sebenarnya. Jelas bahwa mencari dan menemukan kebenaran merupakan tindakan kebebasan mencari apa yang dikehendaki oleh dirinya sendiri.             Hakekat hidup manusia setelah mencari dan menemukan kebenaran tentu cara pandang setiap taraf pergumulan manusia memiliki siklus hidup yang berbeda. Sehingga sesungghnya dapat menjadi refleksi bahwa membangun suatu kebenaran dengan mencari dan menemukan bukan suatu hasil yang gampang dicapai akan tetapi perlu menyimaki akan proses perjalanan mencari kebenaran. Sebab pasti banyak problem yang ditemukan bahkan rasa terjebak menjadi suatu tanggung j...

Dialog; Realisasi Konsep Non-Kekerasan Gandhi

  Penulis:  Klaudius Adi Bay Riang Hepat   1.    Mohandas Karamchand Gandhi Mohandas Karamchand Gandhi dilahirkan di Porbandar yang dikenal pula dengan nama Sudamapuri pada tanggal 2 Oktober 1869. Gandhi adalah pemimpin terkemuka nasionalisme India. Dia adalah salah satu dari sedikit orang dalam sejarah yang berjuang secara bersamaan di bidang moral, agama, politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Selama menjadi pengacara di Afrika Selatan, dia mengembangkan strateginya tentang non-kekerasan: gagasan menentang hukum yang tidak adil dengan protes tanpa kekerasan. Dia dikreditkan untuk pengembangan satyagraha - kombinasi perlawanan tanpa kekerasan dan pembangkangan sipil - yang sangat penting bagi perjuangan kemerdekaan India. Filsafat dan pemikiran Gandhi relevan dalam dunia yang terus berubah saat ini dan dapat membantu di saat-saat sulit, dan filosofi tersebut juga penting untuk perdamaian global. Kehidupan Gandhi menginspirasi semua orang untuk evolusi diri...

Konsep Kebudayaan Spiritual Sri Aurobindo Dalam Menyelaraskan Intelektualitas Dan Relevansinya Dalam Kehidupan

Penulis: Emilius Mario Mara Owa   Pengantar             Keberadaaan manusia ini merupakan sebuah karunia Tuhan yang sangat luar biasa karena dilengkapi dengan pikiran yang bisa merencananakan sesuatu untuk keperluan hidupnya. Hal ini tentunya berbeda dengan makhluk hidup lainnya yang berkerja berdasarkan insting   atau naluri mereka saja. Ketika seseorang menyadari keistimewaan ini maka manusia mempunyai sebuah skala prioritas yang sangat besar untuk merencanakan kehidupannya kelak. Konsep kebudayaan Sri Aurobindo secara esensial adalah bersifat spiritual; pandangannya mengenai kebudayaan spiritual menyelaraskan vitalitas dan intelektualitas. la mengusulkan untuk menyatukan kedalaman spiritual sebuah kebudayaan dengan bentuk-bentuk materialnya serta manifestasi tingkah laku manusia. Ia tidak memuliakan kedalaman batin spiritual dengan mengorbankan bentuk-bentuk material lahir. Konsep Kebudayaan Spiritual Sri Aurobi...

Konsep Agama Universal Menurut Swami Vivekananda Dalam Konteks Kerukunan Umat Beragama di NTT

Oleh: Edmario Da Cunha (Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira) Pengantar Kerukunan merupakan jalan hidup setiap manusia yang memiliki bagian-bagian dan tujuan tertentu yang harus dijaga bersama-sama, saling menolong, toleransi, tidak saling bermusuhan dan saling menjaga satu sama lain. Kerukunan berarti sepakat dalam perbedaan-perbedaan yang ada dan menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai titik tolak untuk membina kehidupan sosial yang saling pengertian serta menerima dengan ketulusan hati yang penuh keikhlasan. Kerukunan mencerminkan hubungan timbal balik yang ditandai oleh sikap saling menerima, saling mempercayai, saling menghormati dan menghargai serta sikap saling memaknai kebersamaan. Dalam pengertian sehari-hari kata rukun dan kerukunan adalah damai dan perdamaian. BHINEKA TUNGGAL IKA adalah motto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang   Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Semboyan ini bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa...

FILSAFAT PENDIDIKAN MENURUT RADHAKRISHNAN DAN RELEVANSI BAGI PENDIDIKAN DI INDONESIA

  Oleh: Anselmus Betu Raro Mahasiswa Semester 8 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira-Kupang   Pengantar Agama semakin menunjukkan wajah yang paradoks; di satu sisi ia menjadi sumber nilai manusia dalam menjalani hidup, mengabarkan kedamaian, moralitas, persaudaraan, kesalehan sosial, dengan mengakui keberadaan Tuhan sebagai yang absolut, namun di sisi lain atas nama agama, manusia bisa berprilaku bengis, penuh kebencian, sampai berujung pada pembantaian, pembunuhan massal, dan terkebirinya nilai-nilai kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, dunia pendidikan kita sedang gencar bicara soal pendidikan karakter. Menariknya, agama menjadi salah satu sumber acuan pendidikan karakter tersebut. Pertanyaan sederhana muncul, pendidikan karakter seperti apa yang dimaksud dan diberikan oleh agama dalam situasi ketegangan agama seperti ini? Apalagi jika agama melulu diajarkan secara eksklusif bukan inklusif. Kotbah agama yang digelar di tempat suci secara eksklusif...